Home Cerpen Tolong Tutup Mulut Saya Juga

Tolong Tutup Mulut Saya Juga

Share
Share

Duamata.id – Di sebuah daerah yang dulu selalu gaduh oleh isu, sebut saja Kabupaten Riuh Raya segala sesuatu pernah terasa seperti pasar malam.

Isu berseliweran seperti pedagang cilok di alun-alun. Isu-isu yang buat rameh jagat kabupaten, dan seperti biasanya lambat Laun mundur teratur hilang dan senyap.

Penduduk Riuh Raya terbiasa dengan itu semua.
Setiap pagi, sebelum kopi habis diseruput, sudah ada tiga isu baru yang mampir ke grup WhatsApp.

Tapi belakangan ini sesuatu terasa aneh.
Riuh Raya… tiba-tiba sunyi.
Tidak ada lagi kabar heboh. Tidak ada lagi dokumen yang “tak sengaja bocor”. Tidak ada lagi bisik-bisik di warung kopi.
Semua mendadak tertib, tenang, dan sangat sopan.

Namun yang paling ramai beberapa waktu lalu adalah dua cerita yang hampir jadi legenda lokal.

Pertama, soal air.
Di daerah yang mata airnya terkenal jernih itu, tiba-tiba muncul kabar bahwa air yang dulu mengalir gratis dari alam kini berubah menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan dengan cara-cara yang membuat dahi masyarakat mengernyit

“Air kita kok kaya produk, diperjualbelikan,” kata seorang warga di warung kopi.
“Tapi operasional jualannya besar, untungnya kecil .”

Isu itu sempat bergema.
Tapi kemudian… hilang.
Seperti batu dilempar ke sumur dalam.
Plung.
Sunyi.

Isu kedua bahkan lebih menarik, tunjangan legislatif.
Konon, para wakil rakyat di daerah itu tiba-tiba mendapatkan berbagai tambahan tunjangan dengan nama yang terdengar sangat mulia.
Tunjangan komunikasi.
Tunjangan reses.
Tunjangan perumahan.
Tunjangan transportasi.

Jumlahnya membuat beberapa warga yang sedang menghitung uang belanja dapur sempat berhenti mengupas bawang.

“Kalau wakil rakyatnya butuh tunjangan komunikasi segitu besar,” kata seorang bapak di pos ronda, “mungkin sinyal ke rakyat memang mahal.”

Isu ini sempat panas juga.
Tapi seperti yang pertama, ia mendadak menghilang.
Tidak ada lagi diskusi.
Tidak ada lagi debat.
Tidak ada lagi orang yang membicarakannya di warung kopi.
Semua orang… tiba-tiba bijaksana.

Di tengah kesunyian itu, ada seorang blogger lokal bernama Raka.
Masalahnya, Raka hidup dari menulis isu daerah.
Ketika isu ramai, blognya ramai.
Ketika isu sepi, dompetnya ikut sunyi.

Suatu malam ia menulis sebuah artikel yang kemudian membuat banyak orang tersenyum pahit.
“Surat Untuk Saudara-Saudara yang Sudah Ditutup Mulutnya”

Saudara-saudaraku yang beruntung,
Saya dengar belakangan ini banyak yang sudah mendapat kesempatan istimewa untuk… diam.

Katanya sejak itu daerah kita menjadi sangat tenang.
Isu tentang penjualan air mendadak menguap seperti embun pagi.

Isu tunjangan legislatif juga tiba-tiba berubah menjadi cerita lama yang tidak layak dibahas.
Hebat sekali.

Raka berhenti sebentar, lalu menulis lagi.
Saya hanya ingin bertanya dengan tulus.
Apakah program “tutup mulut” ini terbuka untuk umum? Karena terus terang saja, saya juga tertarik.

Ia melanjutkan dengan nada yang makin nakal.
Selama ini saya menulis isu karena tidak ada yang menawarkan apa-apa agar saya diam.
Tapi kalau ternyata ada skema yang lebih menjanjikan, saya tentu tidak ingin tertinggal.

Kepada teman-teman yang dulu rajin membocorkan cerita, tentang air yang dijual atau tunjangan yang melonjak, tolong berbagi sedikit rahasianya.

Di akhir tulisan, Raka menyisipkan pesan khusus.
Kepada siapa pun yang sedang punya masalah besar di daerah ini, saya titip salam.
Jika suatu saat ada orang datang menawarkan sesuatu agar cerita itu berhenti,
tolong sekalian sebut nama saya. Saya juga ingin merasakan rezeki tutup mulut itu.

Lalu ia menutup artikelnya dengan kalimat yang membuat banyak orang membaca dua kali.

Karena di daerah kita ini, sepertinya bukan hanya air yang bisa dijual.
Kadang… suara juga punya harga.
Dan kalau memang begitu,
saya juga ingin tahu tarifnya.

Tulisan itu menyebar cepat di Kabupaten Anginangin.
Orang-orang membaca.
Tertawa pelan.
Lalu seperti biasa…
mereka kembali diam.

Hanya Cerpen by Mang Duta

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Bupati Dian Serahkan SK Kepala Sekolah Baru dan Stimulan Linmas, Tegaskan Peran Strategis Pemimpin Sekolah

KUNINGAN – Pagi di Lapangan Upacara Setda Kabupaten Kuningan, Senin (9/3/2026), menjadi...

Cek Kesiapan Operasional, Kodim 0615/Kuningan Periksa Kendaraan Dinas Prajurit

KUNINGAN – Untuk memastikan kesiapan operasional prajurit, jajaran TNI di Kodim 0615/Kuningan...

Dialog dengan Forum Rektor, Pemkab Kuningan Siapkan Lompatan Ekonomi dan 30 Ribu Pekerjaan

KUNINGAN – Pemerintah Kabupaten Kuningan mulai memperkuat kolaborasi dengan kalangan akademisi. Dalam...

15.579 Siswa SD di Kuningan Mulai Gladi Bersih TKA, Ini yang Akan Didapat Siswa dan Sekolah

KUNINGAN – Sebanyak 15.579 siswa kelas VI dari 655 Sekolah Dasar (SD)...