Home Cerpen Rilis, Kopi, dan Satu Dua Lembar Seratus Ribu

Rilis, Kopi, dan Satu Dua Lembar Seratus Ribu

Share
Share

Di sebuah kota kecil yang panasnya selalu terasa lebih pedih daripada kritik yang pernah dituliskan media lokal, hiduplah seorang jurnalis bernama Elang. Usianya hampir empat puluhan, wajahnya selalu tampak letih, tetapi bukan karena sibuk mengejar berita, melainkan sibuk mengejar rilis.

Ya, Elang bukan sembarang jurnalis. Ia jurnalis serba bisa: bisa meliput, bisa menulis, bisa memotret… dan yang paling penting, bisa menyalin. Bahkan mungkin lebih ahli menyalin daripada menulis. Teman-temannya sering bercanda, “Bang Elang itu kalau ngetik rilis, jari-jarinya otomatis. Kayak printer Epson.”

Elang hanya tertawa pahit.

Pagi itu ia menghadiri konferensi pers yang diadakan oleh sebuah instansi yang katanya sedang sangat peduli lingkungan. Peduli sekali, sampai-sampai ketika masyarakat protes soal limbah dan dampak lingkungan, mereka menggelar jumpa pers dengan narasi yang sudah disiapkan matang: “Semua aman, semua terkendali, masyarakat salah paham.”

Elang datang dengan niat baik, atau setidaknya, niat bekerja. Ia duduk bersama jurnalis lain, sebagian sibuk membuka grup WhatsApp mencari rilis, sebagian lagi sibuk memilih foto mana yang paling bisa dipakai untuk headline “Mereka Bergerak Cepat”.

Ketika acara dimulai, salah seorang perwakilan berbicara panjang. Banyak janji hijau, banyak jargon ekologis, dan tentu saja banyak kalimat yang sudah diulang-ulang:

“Sinergi kolaboratif lintas sektor dalam bingkai pembangunan berkelanjutan berbasis lingkungan.”

Elang mendengarnya sambil menulis. Bukan menulis berita, tetapi menyalin rilis yang sudah dikirim tiga menit sebelum acara dimulai.

Namun hari itu ada kejutan kecil. Seorang warga, entah bagaimana lolos dari barisan pengamanan, tiba-tiba berdiri dan bertanya lantang:

“Kalau semua terkendali, Pak, kenapa ikan di sungai mati? Bapak tanggung jawab ga dampaknya terhadap lingkungan? Dan kenapa kami dibiarkan begini?”

Ruangan hening. yang di ruangan saling lirik. saling lihat.

Dalam hati kecilnya yang masih tersisa sedikit idealisme, Elang merasa kalimat itu seperti percikan terakhir yang bisa membakar naskah berita palsu. Ia ingin mencatat. Ia ingin menuliskannya. Ia ingin mengangkat suara warga itu.

Tapi belum sempat menekan tombol huruf di keyboard, seorang panitia mendekatinya pelan.

“Bang Elang… nanti tulisannya jangan jauh dari rilis ya,” bisiknya sambil menyelipkan dua lembar uang seratus ribu. “Kita bantu, abang bantu juga.”

Elang terdiam sejenak. Dua ratus ribu. Jumlah yang tidak membuat kaya, tapi cukup untuk beli bensin, rokok, dan bayar kuota seminggu. Jauh lebih baik daripada jadi tukang ketik di rental komputer yang dibayar lima ribu per lembar.

Ia menarik napas. Lalu kembali mengetik rilis.

Di luar, suara warga itu masih terdengar, memprotes, memohon. Tapi di laptop Elang, semua suara itu menghilang dalam kalimat diplomatis: “Kami memastikan situasi aman dan masyarakat diimbau tidak terprovokasi informasi yang tidak jelas.”

Malamnya, ketika berita Elang tayang, ia membaca kembali tulisannya. Terlihat rapi, santun, bersih… dan tidak jujur.

Ada rasa sesak. Tapi ia sudah terlalu lelah untuk melawannya. Dunia jurnalistik di kotanya seperti sebuah panggung teater. Pejabat yang sedang bermasalah bisa tiba-tiba menjadi pahlawan selama ada kamera dan rilis. Jurnalis menjadi figuran, hanya bertugas memastikan naskah pementasan berjalan mulus.

Namun meski begitu, Elang tidak pernah berhenti berharap. Setiap kali melihat masyarakat mengeluh, ia merasa seperti sedang mengumpulkan utang moral, utang yang suatu hari harus ia lunasi.

Dan malam itu, sambil menginstan mi karena belum makan sejak siang, ia berbisik pada dirinya sendiri:

“Suatu hari, gue akan nulis yang sebenarnya… walau mungkin bukan hari ini.”

Ia tertawa kecil. Lelah, tapi masih manusia.

Di meja kerjanya, uang dua lembar itu tergeletak. Bukan simbol suap, bukan simbol penghinaan. Tapi simbol kenyataan pahit: bahwa kadang, jurnalis dipaksa memilih antara idealisme dan listrik yang harus tetap menyala.

Di luar, kota kecil itu tertidur. Tapi suara protes warga yang siang tadi ditenggelamkan rilis, masih terdengar jelas di telinga Elang.

Dan mungkin, mungkin saja, suatu hari nanti… tulisan yang ia buat bukan lagi sekadar rilis.

Melainkan suara.

Suara yang selama ini disenyapkan.

Hanya Fiksi by Bengpri

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

UMKM Kuningan Capai 42 Ribu, Sekda: Literasi Keuangan Jadi Kunci Agar Usaha Tak Jalan di Tempat

KUNINGAN — Pemerintah Kabupaten Kuningan menegaskan bahwa sektor usaha mikro, kecil, dan...

Mudik Lebaran 2026 Diprediksi Membludak, Dishub Kuningan Siapkan 7 Posko dan Jalur Alternatif

KUNINGAN — Arus mudik dan arus balik Lebaran 2026 diperkirakan akan meningkat...

Hujan di Gerobak Kelapa

Duamata.id - Menjelang pukul empat sore, langit sudah seperti wajah orang yang...

Video MBG Viral di Pamekasan, BGN: Menu Sebenarnya Lengkap, Tapi Tidak Dikeluarkan dari Mobil

Jakarta — Video yang memperlihatkan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di...