Duamata.id – Nama saya Eceng. Lengkapnya Eceng Gondok. Penduduk lama Waduk Darma.
Belakangan ini hidup kami agak sibuk. Bukan karena jumlah kami bertambah, tapi karena tiba-tiba semua orang memperhatikan kami.
Padahal selama berbulan-bulan kami tumbuh dengan tenang. Beranak-pinak, berkeluarga, membangun perkampungan terapung. Tak ada yang menyapa. Tak ada yang bertanya kabar.
Lalu suatu pagi, datanglah rombongan besar.

Ada bupati, wakil bupati, sekda, kepala dinas, camat, lurah, tokoh masyarakat, aktivis lingkungan, influencer, wartawan, fotografer, videografer, bahkan orang yang selama ini saya kira tinggal di balik baliho ternyata ada juga wujud aslinya.
“Kita harus peduli lingkungan!” teriak seseorang.
Saya dan teman-teman eceng gondok saling pandang.
“Loh, kita terkenal sekarang?”
Belum sempat berpikir panjang, terdengar suara kamera bergantian.
Klik.
Klik.
Klik.
Foto dari depan.
Foto dari samping.
Foto candid.
Foto serius.
Foto sedang menunjuk ke arah waduk.
Foto sedang memegang eceng gondok satu batang.
Bahkan ada yang mengangkat saya setinggi dada sambil menatap jauh ke cakrawala seperti sedang menyelamatkan dunia.
Saya terharu.
Ternyata selama ini kami bukan gulma.
Kami properti foto.
Siang harinya saya melihat berita mulai bermunculan.
“Bupati Pimpin Langsung Aksi Bersih Waduk.”
“Wakil Bupati Tunjukkan Kepedulian Lingkungan.”
“Sekda Turun Tangan Menangani Eceng Gondok.”
“Komunitas X Bergerak Menyelamatkan Waduk.”
“Organisasi Y Berkomitmen Jaga Alam.”
Saya bingung.
Padahal yang dibersihkan sama.
Eceng gondoknya juga kami-kami lagi.
Tapi kok bisa satu tumpukan eceng gondok menghasilkan puluhan berita?
Luar biasa.
Kalau begini, mungkin kami termasuk tanaman paling produktif di bidang hubungan masyarakat.
Malamnya kami rapat keluarga besar eceng gondok.
“Saudara-saudara,” kata Ketua RT Eceng Gondok.
“Apa kita harus sedih karena dibersihkan?”
“Tidak!” jawab yang lain serempak.
“Kenapa?”
“Karena setiap kali kita dibersihkan, kita membuat semua orang terlihat peduli.”
Semua mengangguk.
Ada yang menjadi pahlawan lingkungan.
Ada yang mendapat foto terbaik.
Ada yang mendapat konten media sosial.
Ada yang mendapat bahan pidato.
Ada yang mendapat berita utama.
Semua kebagian.
Adil dan merata.
Kami benar-benar tanaman yang suka berbagi.
Bahkan saya mendengar ada pejabat yang hanya memegang tiga batang eceng gondok selama lima detik.
Tapi fotonya dipakai seminggu.
Saya bangga.
Kontribusi saya ternyata sangat besar.
Tiga batang tubuh saudara saya telah mengangkat citra seseorang.
Pengorbanan yang mulia.
Namun di sela-sela tawa kami, ada satu eceng gondok tua yang tiba-tiba bicara.
Suaranya pelan.
“Anak-anak…”
“Iya, Kek?”
“Besok setelah kamera pulang, kira-kira siapa yang tetap datang?”
Semua diam.
“Kira-kira siapa yang tetap menjaga waduk?”
Semua makin diam.
“Kira-kira siapa yang memastikan kita tidak tumbuh sebanyak ini lagi?”
Angin malam berhembus pelan.
Tak ada yang menjawab.
Karena kami tahu, masalah sebenarnya bukan siapa yang paling banyak difoto saat membersihkan eceng gondok.
Melainkan siapa yang paling konsisten menjaga waduk ketika tidak ada kamera.
Pagi berikutnya beberapa teman kami memang sudah diangkut pergi.
Namun sebagian besar masih mengapung.
Matahari terbit.
Waduk kembali tenang.
Drone sudah tak terdengar.
Wartawan sudah pulang.
Spanduk mulai dilepas.
Berita sudah tayang.
Status media sosial sudah diposting.
Semua mendapatkan bagian citranya masing-masing.
Dan kami, para eceng gondok, kembali bekerja seperti biasa.
Sebab kami tahu, jika akar persoalannya tidak ikut dicabut, suatu hari nanti kami akan tumbuh lagi.
Lalu semua orang akan berkumpul lagi.
Berfoto lagi.
Berpidato lagi.
Membuat berita lagi.
Dan seperti biasa, kami akan dengan senang hati membagikan citra untuk semua orang.
Hanya Cerpen oleh Mang Duta


Leave a comment