KUNINGAN— Ketika sebagian besar warga masih menikmati hangatnya pagi bersama keluarga, beberapa petugas kebersihan Desa Nanggela sudah lebih dulu memulai aktivitas mereka. Dengan kendaraan roda tiga yang sederhana, mereka menyusuri gang demi gang, rumah demi rumah, mengumpulkan sampah warga yang telah menunggu untuk diangkut.
Pekerjaan itu dilakukan hampir setiap hari. Di bawah terik matahari, debu jalanan, hingga aroma sampah yang tak selalu bersahabat, mereka tetap menjalankan tugas demi menjaga lingkungan desa tetap bersih.
Salah seorang petugas pengangkut sampah,, Totoi, mengaku pekerjaan tersebut bukanlah pekerjaan yang ringan. Namun ia merasa bangga karena bisa memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Setiap pagi kami keliling mengambil sampah warga menggunakan motor roda tiga. Kadang jalannya sempit, kadang sampah sedang banyak, apalagi kalau habis ada acara atau musim hujan. Tapi kami tetap berusaha mengangkut semuanya supaya lingkungan warga tetap bersih,” ujar Budi.

Setelah sampah terkumpul dari berbagai wilayah desa, kendaraan roda tiga yang penuh muatan itu kemudian diarahkan menuju lokasi tempat pembuangan sampah milik desa.
Di lokasi inilah berbagai jenis sampah dikumpulkan dan ditangani semampu fasilitas yang tersedia.
Namun perjuangan mereka belum berakhir di sana. Keterbatasan sarana masih menjadi tantangan utama. Hingga saat ini Desa Nanggela belum memiliki tungku pembakaran sampah yang memadai dan representatif. Akibatnya, sebagian proses pengolahan sampah masih dilakukan secara manual.
Mewakili Pemerintah Desa Nanggela, Sekretaris Desa Budi Santoso menyampaikan bahwa pihak desa memahami keterbatasan terkait kondisi tersebut. Namun menurutnya, pemerintah desa terus berupaya mencari solusi terbaik.
“Kami menyadari bahwa pengelolaan sampah saat ini belum sempurna. Karena itu kami memohon maaf kepada masyarakat apabila masih terdapat kekurangan. Namun perlu diketahui bahwa desa terus berupaya memberikan pelayanan terbaik dengan kemampuan yang ada. Kami sedang mengajukan berbagai bantuan kepada pemerintah maupun pihak lain agar ke depan tersedia fasilitas pengolahan sampah yang lebih baik dan lebih ramah lingkungan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa program pengangkutan sampah ini berjalan berkat partisipasi masyarakat melalui iuran sebesar Rp20.000 per bulan.
Dana tersebut digunakan untuk operasional pengangkutan, perawatan kendaraan, dan kebutuhan dasar lainnya. Sementara untuk pembangunan fasilitas pengolahan yang lebih modern membutuhkan anggaran yang jauh lebih besar dari kemampuan keuangan desa saat ini.
Di sisi lain, keberadaan layanan ini ternyata sangat dirasakan manfaatnya oleh warga. Salah seorang warga Nanggela, mengaku sangat terbantu dengan adanya pengelolaan sampah yang dilakukan desa.
“Kalau tidak ada petugas desa yang mengangkut sampah, kami bingung harus membuang ke mana. Dengan iuran dua puluh ribu sebulan, sampah rumah tangga kami diurus. Menurut saya ini sangat membantu. Memang masih ada kekurangan, tapi saya melihat petugasnya bekerja keras setiap hari,” tuturnya.
Cerita pengelolaan sampah di Desa Nanggela mungkin bukan cerita tentang fasilitas yang serba lengkap atau teknologi yang canggih.
Ini adalah cerita tentang semangat gotong royong, tentang petugas yang berangkat sejak pagi menggunakan motor roda tiga, tentang pemerintah desa yang berusaha mencari jalan keluar di tengah keterbatasan anggaran, dan tentang warga yang ikut berpartisipasi menjaga kebersihan lingkungan.
Karena sesungguhnya, desa yang bersih tidak lahir dari kemewahan fasilitas semata. Desa yang bersih lahir dari orang-orang yang mau bekerja, peduli, dan terus berusaha meski dalam keterbatasan. Di Desa Nanggela, perjuangan itu setiap hari dapat dilihat dari roda-roda kecil kendaraan pengangkut sampah yang terus berputar demi melayani masyarakat.


Leave a comment