Duamata.id – Setiap kali bulan Mei datang, ada satu tanggal yang selalu mengetuk hati saya lebih dalam dibanding sekadar seremonial upacara: 2 Mei, Hari Pendidikan Nasional.
Bagi sebagian orang, Hardiknas adalah agenda tahunan, bendera dikibarkan, pidato disampaikan, dan dokumentasi diabadikan.
Namun bagi saya, yang pernah puluhan tahun berdiri di halaman sekolah sebagai kepala sekolah, Hardiknas adalah ruang refleksi yang tidak pernah selesai.
Saya masih ingat jelas, dulu ketika pagi Hardiknas di sekolah, anak-anak berdiri rapi dengan seragam terbaiknya.
Ada yang sepatu sedikit kebesaran, ada yang dasinya masih miring, tapi di mata saya mereka semua sedang belajar menjadi Indonesia.
Kini, setelah saya diberi amanah sebagai Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, pandangan itu tidak berubah, hanya jangkauannya yang lebih luas.
Kalau dulu saya mengurus satu sekolah, kini saya belajar memahami ratusan sekolah dengan ribuan cerita yang berbeda.
Dan dari situ saya semakin sadar: pendidikan itu bukan hanya soal kurikulum, bukan sekadar angka rapor, bukan pula sekadar kelulusan.
Pendidikan adalah tentang manusia.
Tentang guru yang tetap tersenyum meski lelahnya tak selalu terlihat.
Tentang kepala sekolah yang diam-diam memikirkan listrik sekolah yang sering padam.
Tentang anak-anak yang berangkat sekolah dengan harapan besar meski dengan fasilitas yang sederhana.
Hardiknas tahun ini bagi saya bukan hanya peringatan, tetapi pengingat.
Bahwa Ki Hajar Dewantara sudah meletakkan pondasi yang sangat dalam: “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”
Di depan memberi teladan.
Di tengah membangun semangat.
Di belakang memberi dorongan.
Kalimat itu tidak boleh berhenti menjadi slogan di spanduk Hardiknas saja. Ia harus hidup di ruang kelas, di ruang guru, di ruang kebijakan, bahkan di ruang hati kita sebagai pendidik.
Saya sering berkata kepada teman-teman guru: jangan lelah menjadi cahaya, meski kadang kita sendiri sedang redup. Karena di depan kita ada anak-anak yang sedang mencari arah hidupnya.
Di Kabupaten Kuningan, kita tahu tantangan pendidikan tidak ringan. Ada sekolah yang masih berjuang dengan keterbatasan sarana, dan hal-hal lainnya yang sedikit demi sedikit sedang kita benahi bertahap.
Tapi justru di situlah makna pendidikan diuji: apakah kita tetap hadir meski keadaan belum ideal?
Sebagai mantan kepala sekolah, saya paham betul bahwa perubahan besar selalu dimulai dari ruang kelas kecil.
Dari satu guru yang sabar menjelaskan, dari satu anak yang akhirnya paham membaca, dari satu sekolah yang terus berbenah meski perlahan.
Dan sebagai pejabat saat ini, saya belajar bahwa kebijakan tanpa sentuhan lapangan akan kehilangan ruhnya.
Karena itu saya selalu mencoba membawa ingatan lama saya sebagai kepala sekolah ke dalam setiap keputusan: apakah ini benar-benar menyentuh sekolah? Apakah ini membantu guru? Apakah ini membuat anak lebih mudah belajar?
Hardiknas mengajarkan satu hal penting: pendidikan tidak pernah selesai.
Ia bukan proyek lima tahunan. Ia adalah perjalanan panjang lintas generasi.
Maka di momen ini, izinkan saya menyampaikan satu pesan sederhana:
Mari kita rawat pendidikan dengan hati, bukan hanya dengan administrasi.
Mari kita jaga guru sebagai pilar, bukan sekadar pelaksana.
Dan mari kita pastikan setiap anak di Kuningan, di desa maupun kota, memiliki hak yang sama untuk bermimpi besar.
Karena pada akhirnya, bangsa ini tidak dibangun oleh gedung-gedung tinggi, tetapi oleh ruang kelas yang hidup, oleh guru yang ikhlas, dan oleh anak-anak yang tidak berhenti bertanya tentang masa depan.
Selamat Hari Pendidikan Nasional.
Dari saya,
Seorang pendidik yang pernah berdiri di depan kelas, dan kini berusaha tetap menjaga cahaya itu dari ruang kebijakan.
Oleh: Surya, S.Pd., M.M.
Catatan seorang mantan kepala sekolah yang kini mengabdi sebagai Kepala Bidang Pembinaan SD Disdikbud Kabupaten Kuningan
Leave a comment