KUNINGAN – Pemerintah Kabupaten Kuningan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) tengah mematangkan pagelaran akbar bertajuk Konser Angklung Pelajar yang akan menjadi sajian utama peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2026 mendatang.
Agenda ini menjadi bagian dari strategi kebudayaan daerah untuk menghidupkan kembali “resonansi bambu” di kalangan pelajar, sekaligus mempertegas identitas Kuningan sebagai Kabupaten Angklung.
Sebagai tahap awal menuju puncak acara, Disdikbud telah menggelar kompetisi fotografi dengan latar ikon daerah Tugu Angklung, yang melibatkan pelajar tingkat SMP dan SMA sederajat.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kuningan, Dr. Elon Carlan, melalui Kepala Bidang Kebudayaan, Dr. Funny Amalia Sari, menyampaikan bahwa lomba tersebut bukan sekadar ajang kreativitas visual, melainkan bagian dari proses penanaman kesadaran budaya sejak dini.
“Ini bukan hanya kompetisi foto, tetapi langkah awal untuk membangun kembali kesadaran kolektif bahwa Kuningan adalah Kabupaten Angklung,” ujarnya.
Antusiasme peserta tercatat tinggi. Sebanyak 72 sekolah turut ambil bagian, terdiri dari 47 SMP dan 25 SMA sederajat.
Seluruh karya kemudian dipublikasikan melalui media sosial resmi sekolah, dengan penilaian berbasis kualitas karya serta interaksi digital seperti like, comment, dan share.
Setelah tahap kompetisi, Disdikbud melakukan pemetaan kegiatan ekstrakurikuler seni budaya di sekolah-sekolah.
Hasil pemetaan tersebut menjadi dasar penguatan konsep Konser Angklung Pelajar yang kini tengah disiapkan bersama para seniman lokal.
“Target pertunjukan akan mendorong siswa lebih giat berlatih. Angklung tidak lagi sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi ruang ekspresi dan kebanggaan,” tambahnya.
Pada puncak Hardiknas 2026, pertunjukan angklung akan ditampilkan secara massal dan estafet oleh siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga SMA, sebagai simbol regenerasi pelestari budaya.
Lebih jauh, Pemkab Kuningan juga tengah memperkuat aspek historis angklung dengan melibatkan sejarawan dan saksi budaya untuk memastikan validitas narasi sejarahnya.
“Fondasi sejarahnya harus kuat. Ini penting agar ketika identitas Kabupaten Angklung digaungkan ke tingkat nasional, tidak ada keraguan,” pungkasnya. (Bengpri).
Leave a comment